Kenapa Desa Kita bernama Kemoning

Ketika konflik Pura Dalem Kemoning Kauh muncul, Beberapa senior kita ada yang mulai menelusuri asal usul nama desa adat kemoning: ada yang mengatakan desa adat kemoning adalah desa tua yang seumuran dengan kerjaan klungkung yang berpusat di swecapura gelgel. Hal ini dilengkapinya dengan penjelasan 3 desa tua jaman kerajaan klungkung yaitu: desa Kama-San dan desa Kama-Ning (Kemoning) dan satu lagi desa Kama- (saya lupa namanya).

Sekilas penjelasan beliau masuk akal di telinga. Namun ada juga yang menyebutkan, jaman dulu desa kemoning ketika belum berpenduduk sebanyak sekarang, adalah desa dengan tanah yang banyak di jumpai pohon kemuning. dan jawaban inilah yang sebelumnya yang saya gunakan untuk menjawab pertanyaan pak guru ketika sekolah SD.

Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, guru wali kelas yang bernama Pak Wayan Regog sempat memberikan tugas rumah kepada setiap muridnya untuk menceritakan sejarah dan asal-usul nama desa kami masing-masing. ada sedikit kebingungan di saat itu untuk mencari jawabannya baik di rumah maupun di luar rumah di sekitar desa, karena memang tidak banyak yang tahu tentang asal usul kenapa desa adat kemoning diberi nama Kemoning.

paradigma “jeg mule keto” masih sangat kental “ter-tatoo” di pikiran masyarakat saat itu ketika di tanya oleh anak kecil dan tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. sementara teman sekelas lainnya yang berasal dari lingkungan kelurahan Pekandelan, dengan panjang lebar bisa menceritakan sejarah nama Desa Pekandelan, yang konon daerah tersebut merupakan daerah zone 1 terdekat dari kerajaan Puri Klungkung, dimana para “karyawan” kerajaan puri klungkung jaman dulu bermukim. karyawan dalam bahasa balinya di kenal dengan nama “pengandel-andel” yaitu karyawan yang setiap saat siap untuk di panggil untuk bertugas kerja berganti jadwal jam kerja.

Kembali kenama Kemoning, kalau di lihat dari namanya, yaitu Kemoning, ada kemungkinan nama ini diambil dari nama pepohonan, yaitu pohon kemoning, atau dalam bahasa ilmiahnya Murraya Paniculata L. Lebih lanjut kenapa desa adat kemoning ini diberi nama pepohonan barangkali di jaman dulu daerah ini terdapat sekumpulan jenis pepohonan ini hingga layak di sebut sebagai suatu nama daerah atau kemungkinan pepohonan ini memiliki makna serta jasa tertentu di saat itu seperti digunakan untuk obat penyembuhan, sehingga layak untuk di kenang.

saya memang tidak bisa banyak mengulas sejarah ataupun asal-usul nama desa adat kemoning. namun demikian, saya akan coba berbagi cerita dari sisi pendekatan akademis, yang saya kumpulkan dari beberapa literatur yang saya dapatkan di internet, yang konon berfungsi sebagai obat penyembuh batu ginjal…. seperti di jelaskan di artikel berikut, mudah-mudahan teman-teman maupun adik-adik dari Desa Adat Kemoning yang sering berinteraksi langsung dengan para pinih sepuh di desa kita, mungkin bisa menambahkan dan bisa berbagi informasi serta mengulasnya dari sisi historis ataupun filosofis tentang nama dari Desa Adat Kemoning itu sendiri , dan bila perlu memasyarakatkan pohon kemuning ini di setiap pinggir jalan milik wewengkon desa adat kemoning

Pohon Kemoning Bisa Mengobati Batu Ginjal

Murraya Paniculata L atau biasa di sebut “Kemuning” . Tanaman yang biasa tumbuh liar di semak belukar , tepi hutan, atau di tanam orang sebagai tanaman hias, atau tanaman pagar. Tanaman ini dapat di temukan di daratan rendah hingga ketinggian 400 meter di atas permukaan laut.

Orang Sumatera biasa menyebut pohon ini dengan sebutan “Kemunieng” . Di sunda dikenal dengan nama Jenar, Kamuning. Sementara orang Jawa menyebutnya dengan nama Kemuning atau Kumuning. Orang Madura menyebutnya dengan nama Kamoneng. Di Bali, biasanya menyebut Tanaman ini sebagai Kajeni, Kemuning atau Kemoning.

Pada Ensiklopedia Millenium Tumbuhan Obat berkasiat Indonesia Jilid 1 karya Professor Hembing Wijayakusuma, di sebutkan Kemuning yang masuk Jeruk-Jerukan ini merupakan Perdu (pohon kecil) dengan percabangan sangat banyak.Tingginya sekitar 3-8 meter, batangnya keras, beralur dan tidak berduri.
Yang masih bisa di jumpai untuk memagari pekarangan rumah adalah jenis Kemuning yang berdaun kecil dan lebat. Daun tanaman ini merupakan daun majemuk menyirip ganjil dengan anak daun 3-9 tumbuh berseling-seling.
Tanaman ini berasa pedas, pahit, hangat. yang berkhasiat mematikan rasa (anesthesia), penenang (sedatif) , antidarang (anti inflamasi), menghilangkan bengkak (anti swelling), anti rematik, melancarkan peredaran darah, dan anti tiroida.
Untuk keperluan pengobatan, bagian yang di pakai adalah akar, batang, dan daun. Kemuning berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit rematik, sakit pinggang (lumbago), sakit gigi, radang otak (epidemik encephalitis B), local anesthesia, radang buah zakar (orkhitis). Selain itu juga penyakit radang saluran nafas (bronkhitis), infeksi daluran kemih, batu kandung kemih, batu ginjal, haid tidak teratur, keputihan, lemak tubuh berlebih (obesitas), gigitan serangga dan ular, bisul, koreng, eksim, borok dan gatal-gatal.

Untuk mengobati batu ginjal, batu kandung kemih, daun Kemuning segar di tambah 150 cc air lalu di jus. Setelah itu di saring dan di minum airnya. Bagi penderita rematik dan memar akibat terpukul, sebanyak 15-30 gram akar kering Kemuning dan 15 gram jahe merah (Zingiber Officinale Rosch) di cuci bersih lalu di rebus dengan air 600 cc hingga tersisa 200 cc. Kemudian di saring dan airnya di minum.

Untuk pemakaian luar tumbuhan Kemuning segar di haluskan lalu di tempelkan pada bagian sakit atau bisa dengan cara di rebus kemudian airnya di pakai untuk mencuci bagian yang sakit. Sedangkan untuk pemakaian dalam (minum), 9-15 gram Kemuning kering atau 30-60 gram yang segar di rebus dan airnya di minum.
artikel pendukung lainnya bisa di baca di url berikut, dan yang lainnya tentunya bisa juga di search lewat Google:

http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=116

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *